Ada 'Panggung Sandiwara' di Perburuan Santoso



Infodetik.com, JAKARTA – Direktur Community of Ideological and Islamic Analyst (CIIA) Harist Abu Ulya menduga kuat ada permainan dibalik lambannya Polri dalam menaklukkan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Santoso.
Pasalnya, jika Polri serius dalam misi perburuan Santoso, maka strateginya adalah menurunkan pasukan dengan kapasitas perang gerilya sejak awal.
“Karena yang dihadapi memang kelompok yang menggunakan strategi perlawanan gerilya dan itu tidak pada polisi dan Brimob. Dia tidak punya kapasitas untuk itu, harus TNI atau Kopassus sejak awal,” kata Harist kepada Okezone, Selasa (26/4/2016).
Karena itu, dalam hal ini Polri harus mengenyampingkan ego sektoral dan menyerahkannya pada TNI agar tujuan misi ini cepat tercapai. Namun, karena hal tersebut tidak ditempuh, kecurigaan pun muncul. Harist menduga adanya “panggung sandiwara” berupa kepentingan-kepentingan pribadi di balik persoalan tersebut.
“Kalau mau serius, dari dulu selesai masalahnya. Kan ada aroma, ada 'panggung sandiwara', kepentingan anggaran, kepentingan promosi jabatan pangkat. Jadi ada kepentingan oportunis yang menjadikan kasus Poso itu enggak ada ujung,” jelas dia.
Menurut analisis Harist, TNI dan Polri punya kekuatan yang cukup untuk menaklukkan Santoso. Kelompok Santoso berada di wilayah teritori yang relatif sempit, dengan persenjataan dan logistik yang terbatas.
“Jumlah mereka tidak banyak, senjata tidak banyak, logistik tidak banyak. Aparat kalau mau serius, senjata lebih banyak, logistik lebih banyak, kelemahannya kalau polisi tidak mungkin menghadapi perang gerilya,” ujar dia.
Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment