Gadis Kecil Palestina Itu Bernama Mona


"Aku harus segera pulang. Ibuku sedang menungguku. Ia pasti khawatir kalau aku tidak segera pulang," kata Mona, gadis Palestina 9 tahun sembari mendekap perutnya yang berlubang dan mengucurkan darah segar akibat ditembak tentara Israel. 


Di tangan yang satunya masih tergenggam permen coklat yang baru dibelinya di kedai di ujung kampung.

Seorang tenaga medis yang kemudian datang menggendongnya tahu persis apa yang tengah di hadapi Mona, yaitu maut yang tidak mungkin lagi dielakkan. Bahkan bagi seorang laki-laki dewasa yang sehat, tertembak di bagian perut oleh tembakan jarak dekat, kecuali segera mendapat pertolongan intensif, akan membawa kepada kematian. 


Bukan kematian yang biasa karena kematian yang dihadapi adalah kematian yang diiringi dengan rasa sakit yang sangat hebat.

Namun Mona, dengan kepolosannya, masih dapat memikirkan ibunya, yang mungkin akan marah jika melihat baju barunya kotor karena rembesan darah yang mengucur deras dari lukanya.

"Aku harus segera pulang. Ibuku pasti khawatir karena aku tidak segera pulang." Tidak lama kemudian Mona, gadis kecil yang tidak berdosa itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tangan masih menggenggam permen coklat.

Di sudut lain tidak jauh dari tempat Mona menghembuskan nafasnya, seorang tentara Israel yang telah menembak Mona, memandang dingin drama kemanusiaan yang menyayat hati itu. Ia, satu di antara sebagian besar orang Israel yang memandang nyawa orang-orang Palestina tidak lebih berharga daripada seekor lalat.

Di tempat lain, di waktu lain di Gaza Palestina, tepatnya pada tgl 15 Oktober 1994, Iman Darweesh Al Hams, gadis Palestina berumur 13 tahun tengah tergeletak di tanah dengan wajah tertelungkup. 


Ia menderita luka-luka karena tembakan patroli pasukan Israel yang memergokinya. Kemudian datanglah seorang perwira Israel berpangkat kapten. Dengan dingin ditembaknya Iman dari jarak dekat. Selanjutnya dengan tenang sang kapten memberikan perintah kepada pasukannya melalui radio, "Ini komandan. 

Setiap benda yang bergerak di dalam zona pengawasan, bahkan jika benda itu adalah seorang anak kecil berumur tiga tahun, harus dibunuh."

Seorang serdadu yang masih mempunyai hati nurani melaporkan tindakan sang kapten ke mahkamah militer. Sang kapten pun harus menjalani tiga persidangan militer dalam jangka waktu 2 tahun sejak kejadian penembakan. 


Dan tebak apa yang didapatkan oleh sang kapten kemudian? : Promosi menjadi Mayor dan ganti rugi senilai 83.000 shekel.



Diambil dari facebook Dian Andra
Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment