Suka Duka Novel Baswedan Menjadi Penyidik KPK


Jakarta - Kasus korupsi proyek e-KTP dapat disebut sebagai salah satu kasus paling besar yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain merugikan negara hingga 2,3 triliun rupiah, nama-nama besar pun ikut terseret seperti Ketua DPR Setya Novanto, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Mengilas balik kasus-kasus besar yang ditangani KPK, sebut saja kasus korupsi Wisma Atlet dan simulator SIM maka kita dapat melihat betapa kerasnya tekanan yang dihadapi KPK baik dari oknum politik ataupun dari kepolisian.

Di balik ketiga kasus tersebut ada satu nama yang terus menjadi sorotan. Ia adalah penyidik KPK yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu, Novel Baswedan.

Novel yang telah menjadi penyidik KPK sejak tahun 2007 tersebut memiliki peran penting baik dalam kasus e-KTP, Wisma Atlet dan juga simulator SIM. Terlebih lagi penyidik merupakan garda terdepan pemeriksaan tersangka dan saksi dari kasus-kasus yang ditangani KPK.

‘Serangan Sarang Burung Walet’

Ketika memimpin penyidikan kasus korupsi simulator SIM dengan tersangka Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo pada 2012, Novel mendadak dijerat kasus penembakan tersangka pencurian sarang burung walet-Mulyadi- yang terjadi tahun 2004.

Namun pada tahun 2016 Kejaksaan Agung memutuskan untuk menghentikan penuntutan kasus Novel. Penghentian kasusnya dituangkan dalam Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Nomor B-03/N.7.10/Ep.1/02/2016, yang ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu karena tidak adanya cukup bukti dan perkara yang telah memasuki masa kedaluwarsa.

Selain upaya kriminalisasi, terdapat beberapa upaya dari sejumlah kekuatan politik untuk menjatuhkan Novel sebagai penyidik termasuk saat ia menangani kasus Wisma Atlet Hambalang yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dan mantan anggota DPR Angelina Sondakh.

Prahara Kasus e-KTP

Terakhir dalam sidang kasus korupsi e-KTP Kamis (23/3) di Pengadilan Tipikor Jakarta, nama Novel Baswedan kembali mencuat. Salah satu saksi Miryam S. Haryani, mengaku mendapat tekanan dari penyidik KPK (salah satunya Novel), saat diperiksa di Gedung KPK pada bulan Desember 2016 lalu.

"Jadi waktu saya diperiksa tiga orang, seingat saya yang satu namanya Novel, satu lupa, satu lagi Damanik. Waktu saya baru duduk, dia ngomong 'Ibu tahun 2010 mestinya sudah saya tangkap," kata Miryam.

"Saya tertekan sekali waktu disidik, sampai dibilang bahwa ibu saya mau dipanggil, saya enggak mau, Pak," lanjut Miryam di persidangan.

Selain secara verbal, Miryam juga merasa tak nyaman dengan bau duren yang ia duga berasal dari para penyidik.

"Jadi waktu saya diperiksa tiga orang, seingat saya yang satu namanya Novel, satu lupa, satu lagi Damanik. Penyidik makan duren masuk ruangan membuat saya mual, saya jawab asal saja, mau cepat-cepat keluar dari ruangan," kata Miryam sambil menangis di persidangan.

Tekanan-tekanan tersebut dijadikan alasan bagi Miryam untuuk mencabut semua keterangan BAP yang bertolak belakang dengan keterangannya dalam persidangan. Dalam persidangan Miryam mengaku tidak mengetahui berbagai aliran gelap dana proyek e-KTP, 180 derajat berbeda dengan keteranga BAP dimana ia mengaku menerima uang dari salah satu terdakwa, Sugiharto.

Berselang sehari, apa yang dikatakan Miryam tersebut dibantah oleh Novel.

Ia memastikan tidak ada ancaman kepada Miryam selama proses pemeriksaan tersebut.

"Saya pastikan enggak ada," ujar Novel saat ditemui di Gedung KPK, dikutip dari kumparan.com sebelum teror penyiraman air keras, Jumat (24/3).

Dia pun siap menjelaskan perihal proses pemeriksaan Miryam tersebut nanti di persidangan. Menurut Novel, ada sanksi pidana terhadap Miryam bila terbukti berbohong soal ancaman tersebut.

"Ketika dia berbohong, sanksinya pidana, jelas. Soal dia mengambil risiko itu, itu urusan dia," kata Novel.

Terkait kesaksian Miryam yang mengaku mual karena penyidik KPK yang memeriksanya bau duren, Novel Baswedan pun menanggapi santai dan menyindirnya.

"Nanti semua dijelasin, enggak begitulah, masa sih saya bawa duren ke gedung KPK, emangnya ini toko buah," kata Novel.



sumber : kumparan.com
Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment