Fenomena Plagiator Muda, Tak Beri Solusi Tapi Perpecahan Abadi


INFOdetik.com - Jangan heran kalau selebriti muda yang baru naik daun itu tertangkap basah memplagiat tulisan orang. Karena dari awal, tidak ada hal baru dalam gagasannya. Esensi "semua agama sama" adalah hal basi, yang kemudian ia kemas ulang dalam retorika dan diksi yang seolah baru.

Hanya saja, kemunculan anak itu memberi kegirangan luar biasa bagi pengusung pluralisme agama. Bagi mereka, terpenuhilah kebutuhan akan kader penerus yang akan mengamplifikasi gagasan usang dan "me-repost" wacana lama di media sosial.

Momen kemunculannya pun tepat. Setelah keterpurukan si junjungan di bilik pemungutan suara dan ruang sidang, penganut liberalisme agama mendapatkan sosok baru untuk dipuja. Seolah mengurangi pedihnya luka.

Terlalu lebay anak itu disanjung-sanjung, bahkan diundang ke upacara peringatan Pancasila. Kini, Pancasila seolah jadi jargon jualan tanpa isi moral. Tak peduli seorang plagiat yang tak jujur, atau biduan yang menggoyang-goyang bokongnya di depan publik, siapa pun asal sesuai selera boleh saja disematkan gelar Pancasilais dan menjadi duta.

Ada yang tahu nama Muhammad Abrary Pulungan? Mungkin masyarakat sudah lupa. Anak ini berani melaporkan kecurangan Ujian Nasional di sekolahnya. Tapi untuk kejujuran seperti ini, tak banyak apresiasi sebagaimana si plagiator muda dapatkan.

Padahal bangsa ini darurat kejujuran. Beberapa waktu lalu seorang murid di Padang Sidempuan terpaksa menenggak racun akibat diteror seorang gurunya setelah ia mengunggah status di media sosial yang mengindikasikan kecurangan pada Ujian Nasional. Kasus plagiat belakangan malah menjadi tambahan beban bangsa ini. 

Ada banyak lagi anak yang pantas mendapat apresiasi lebih. Para siswa yang telah memenangkan olimpiade pelajaran di tingkat internasional tidak pernah mendapat ulasan seheboh si plagiator di media massa. Atau para atlet yang berprestasi mengharumkan nama Indonesia.

Diangkatnya nama si plagiator muda hanyalah sarana mempolitisasi kebhinekaan dan Pancasila. Seorang walikota yang hendak maju menyalonkan diri jadi gubernur sudah terlihat eksis berfoto bersamanya. Siapa yang butuh suara bani kotak-kotak, sila berpose dan memuji-muji anak itu.

Dan buruknya, fenomena plagiator muda ini akan mengekalkan politik identitas dan perpecahan anak bangsa. Sebab tulisannya menyinggung hal yang sensitif dan mengangkat hal yang kontroversial. Ia bisa menjadi simbol baru permusuhan antar masyarakat, bahan perdebatan baru di media sosial, dan standard baru untuk stigmatisasi. Seperti yang telah terlihat belakangan ini.

Sementara anak itu tak menghadirkan solusi yang menyatukan bangsa ini. Hanya plagiarisme yang sebabkan keriuhan baru.


Zico Alviandri
Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment