Melihat Dengan Hati


Oleh : Eko Jun

Banyak peristiwa terjadi didepan kita, banyak berita dikabarkan kepada kita. Namun kadang, tidak semua kita mau mengambil pelajaran dan memaknainya dengan kacamata iman. Bagi orang - orang shaleh, setiap hal yang terjadi didepan mereka akan dijadikan i'tibar. Kondisi ruhiah mereka sedemikian tinggi, sehingga akan menghubungkannya dengan urusan agama, urusan akherat. 

Ambil contoh Nabi Yusuf. Beliau digoda oleh Zulaikha dalam ruangan yang tertutup rapat. Beliau sempat tergoda, namun segera berpaling saat melihat tanda dari Tuhannya. Al Qur'an menjelaskan "Walaqad hammat bihi, wa hamma bihaa. Laulaa arra-aa burhaana rabbihi". Kita tidak tahu seperti apa bentuk "Tanda dari Tuhannya" itu. Tapi yang jelas, nabi Yusuf memaknainya sebagai peringatan dari Allah, agar dia tidak bermaksiat dengan melakukan perbuatan keji.

Contoh lain, Abdullah Ibnu Mubarak. Beliau adalah seorang ulama besar, ahli ilmu dan juga ahli jihad. Hatinya senantiasa hidup dalam suasana akherat. Suatu saat beliau melihat api, sama dengan seama rekan mujahid lainnya. Namun hanya dia yang meneteskan air mata. Usut punya usut, saat melihat api beliau teringat dengan neraka. Bandingkan dengan kita, berapa kali melihat api. Namun apakah hati kita langsung teringat dengan panasnya api neraka sebagaimana beliau?

Ada lagi Imam Ahmad bin Hambal. Beliau adalah seorang tokoh ahlus sunnah yang gigih membela Al Qur'an dari paham muktazilah. Beliau bisa merasakan apakah imannya tengan naik atau turun, dari perilaku binatang peliharaannya. Wallahu a'lam apa jenis binatang peliharaannya, apakah kucing, keledai, burung atau yang lainnya. Yang pasti, saat dia melihat binatang peliharaannya berperilaku kurang bersahabat, beliau segera berintrospeksi atas amal dan dosa yang dilakukannya dihari itu.

Cerita - cerita itu mungkin fasih kita sampaikan dimimbar - mimbar dakwah. Hanya saja, kita kadang ridak cukup fasih menghubungkan kisah - kisah seperti itu dalam realitas kekinian. Mungkin karena kita menganggap bahwa kisah hikmah itu sudah terputus. Padahal jika melihat situasi kekinian, kita tengah menjadi saksi atas peristiwa mubahalah yang diumumkan secara terbuka. Korban demi korban sudah mulai berjatuhan, tidakkah hal itu layak kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga.

Sulit dipungkiri, tidak semua kita simpati dan setuju dengan sosok HRS. Mungkin hal itu juga disebabkan karena distorsi informasi dan framing berita yang dilakukan oleh pihak - pihak tertentu. Namun lepas dari semua itu, ikut - ikutan menghujat atas perkara yang belum jelas kebenarannya juga bukan perilaku yang bisa dibenarkan. Terlebih jika pihak yang dihujat tersebut memiliki sejumlah keutamaan dibandingkan kita, baik keutamaan pada nasab, ilmu, amal dll.

Dahulu, televisi kita cukup marak dengan sinetron "Hidayah". Sebuah sajian yang berisi tentang balasan amal perbuatan. Yakni kisah - kisah seputar su'ul khatimah jelang sakaratul maut. Jika melihat fenomena kekinian, sepertinya sinetron itu benar - benar tengah terjadi didunia nyata. Allahummakh timlanaa bihusnil khaatimah, wala takhtim 'alainaa bi suu-il khaatimah. Wallahu a'lam.

Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment