Diskusi Dua Generasi


Oleh : Eko Jun

Setiap kali melihat Donnie Yen main film, sudah terbayang dia akan menghajar musuhnya habis – habisan. Demikian pula saat melihat Fachry Hamzah dalam sebuah forum diskusi, kita berharap menyaksikan beliau membantai lawan bicaranya. Tentu saja dengan logika yang cerdas, visi yang besar dan retorika yang ciamik. Tapi, semalam kita melihat ada yang berbeda dengan sosok Fachry Hamzah, khususnya saat berhadapan dengan Tsamara Amany.
Dilihat dari sudut manapun (usia, pengalaman, ilmu dll), Tsamara Amany tentu tidak ada apa – apanya bila dibandingkan dengan Fachry Hamzah. Ibarat kata, Tsamara Amany baru belajar alif-ba-ta, Fachry Hamzah sudah sampai fikih perbandingan mazhab. Alih – alih meng-KO dimedan diskusi, ternyata, Fachry Hamzah malah memposisikan Tsamara Amany secara terhormat. Wajar jika Karni Ilyas selaku host sampai heran dan menyebut “Baru kali ini Fachry Hamzah bertekuk lutut”.
Apa yan dilakukan oleh Fachry Hamzah sudah tepat, setidaknya jika dilihat dari dua pertimbangan. Pertama, yang dihadapi adalah seoang wanita. Pihak yang kontra terhadap Fachry Hamzah itu banyak. Mulai dari yang memaki – maki hingga yang mengajak berkelahi. Tapi mereka pasti akan berfikir 1.000 kali untuk meladeni Fachry Hamzah dimedan diskusi. Apalagi jika di-shooting dan disiarkan secara live. Jika situasinya begini, mau tidak mau yang harus diajukan malah wanita. Terlebih jika usianya belia dan good looking.
Sepertinya, sosok Tsamara Amany memenuhi kualifikasi ini. Polos, hijau, belia, good looking dll. Wajar jika media mulai melambungkan namanya paska meladeni twit Fachry Hamzah. Sejak awal ILC pun, berkali – kali kamera menyorot wajah Tsamara Amany. Terbayang tidak jika saat itu Fachry Hamzah mau meladeninya sebagai lawan debat yang serius? Simpati publik pasti akan mudah mengalir ke Tsamara Amany. Apalagi jika wajahnya jadi pucat, bingung, tertekan atau bahkan menangis karena memang kalah segalanya dibanding Fachry Hamzah.
Kedua, yang dihadapi adalah generasi milenial. Dia jelas tidak tahu apa – apa tentang perjuangan dan proses demokratisasi di Indonesia. Dia juga tidak tahu apa – apa tentang karut marut dunia politik dan dunia penegakkan hukum di Indonesia. Kalau diladeni sebagai lawan diskusi yang serius, ya malah aneh. Alih – alih menceramahinya, Fachry Hamzah malah memaklumi kondisi itu. Bahkan beliau menyebut Tsamara Amany sebagai korban kesuksesan permainan media yang dilakukan KPK.
Dalam situasi memiliki keunggulan mutlak, Fachry Hamzah bisa menjaga kehormatan lawan debatnya. Lebih lanjut, Fachry Hamzah mempersilahkan Tsamara Amany untuk masuk dan terlibat lebih dalam terhadap dunia politik dan kebijakan publik. Tidak lupa, Fachry Hamzah juga “menyempatkan diri” untuk memuji tingkat kedewasaan Tsamara Amany. Hm,.. setidaknya, ini jadi pemandangan yang bagus dilayar kaca.
Seorang pendekar, petinju dan petarung sejati itu memiliki sejumlah kode etik saat menghadapi lawannya. Bertemu dengan lawan yang lebih tinggi akan menghormati, bertemu dengan yang sepadan akan menikmati, bertemu dengan yang lebih rendah akan menghargai. Dan, jika bertemu dengan pihak yang “tidak jelas”, cukup dengan mendiamkannya saja. Bukankah diamnya orang alim atas sebuah pertanyaan juga merupakan sebuah jawaban?


Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment