Menjaga Nalar dan Nurani


Oleh : Eko jun
 
Ada publisitas menarik dari laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Mereka melansir data Gallup (sebuah lembaga ternama di AS) bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal Trust and Confidence in National Government. Angkanya sangat tinggi, yakni mencapai 80% ditahun 2016. Disusul oleh Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada. 

Sederhananya, masyarakat Indonesia sangat percaya bahwa pemerintahan Jokowi dapat diandalkan, efektif dan responsif dalam menangani segala kebutuhan dan fasilitas publik. Tentu saja kepercayaan yang sangat tinggi itu adalah buah, hasil dan bukti bahwa pemerintah telah bekerja dengan benar. Atas data tersebut, kami cuma bisa bilang : "waow".

Kami beri ilustrasi sederhana. Misalnya, ada orang berkata "Berdasarkan data riset dari sebuah lembaga (sebut saja LSI, SMRC dll), ternyata Universitas Paramadina itu jauh lebih bagus ketimbang Universitas Indonesia", apa reaksi anda? Mungkin kita akan heran, tertawa atau tersenyum kecut. Apalagi jika hal itu disampaikan kepada anak SMA yang baru lulus sekolah dan mau ikut ujian masuk perguruan tinggi. 

Setumpuk tanya akan langsung berhamburan dikepala kita ; apakah survei itu kredibel, apakah salah metodologi, apakah salah dalam menentukan sampel populasi dll. Mengapa kita bisa langsung berfikir demikian? Sederhana saja, karena antara hasil survei dengan kenyataan dilapangan tidak nyambung. Hasil survei itu tetap akan kita tolak, sekalipun berdasarkan audit forensik, memang data surveinya demikian alias tidak ada data responden yang diotak - atik.

Pertama, mereka hutang penjelasan kepada bangsa Indonesia atas data itu. Gallup itu lembaga ternama di AS. Ibu Sri Mulyani selaku "perawi berita" juga seorang ekonom hebat. Perlu disampaikan secara transparan atas data - data pendukung dari kesimpulan tersebut. Ya bukan apa - apa. Dulu Amerika menginvasi Iraq juga berdasarkan "data kredibel" bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal. 

Sampai perang Iraq dinyatakan berakhir oleh George Bush Jr, tidak ditemukan jejak senjata pemusnah massal. Itu kobaran perang hanya berdasarkan tuduhan fiktif saja. Jadi kalau sekedar data, apalagi berasal dari AS, kita mesti sangat kritis. Supaya tidak dianggap su'udzan, anggap saja mereka hutang penjelasan atas data itu. Selesai.

Kedua, mari kita komparasikan dengan kondisi nyata dilapangan. Data Gallup, Rakyat Indonesia sangat percaya bahwa pemerintahan Jokowi cukup handal (tahun 2016, mencapai 80%). Lagi - lagi kita dibuat bingung, ini data survei persepsi publik (seperti model survei Transparansi Internasional) atau data indikator riel. Jika ini adalah data survei persepsi publik, maka hal ini menunjukkan kesuksesan propaganda pemerintah. 

Sama persis seperti keberhasilan propaganda bahwa Ahok adalah orang bersih dan tidak korupsi. Tapi jika ini adalah data indikator riel, ya mari kita sandingkan dengan data hutang luar negeri semakin menggunung, data tingkat kemiskinan, data pengangguran dll. Karena yang kita rasakan dialam nyata, kehidupan rakyat itu justru semakin berat dan sulit. Dan itu merata dihadapi semua elemen.

Ketiga, ujian pembuktian. Mari kita hadapkan pada berbagai masalah riel dilapangan, yakni apakah pemerintahan ini cukup bisa diandalkan? Dari urusan yang kecil, seperti harga cabai, harga daging sapi dll, sampai urusan yang besar seperti negosiasi kontrak Freeport dan hutang luar negeri. 

Apakah pemerintah memang memiliki kapasitas yang cukup handal untuk menangani situasi itu? Jadi, anggap saja data Gallup itu benar, maka tantangan rakyat sangat sederhana, yakni, "Prove it". Jangan hanya bisa membius kesadaran rakyat dengan beragam infografis (baik yang resmi maupun yang tidak resmi) sebagai bahan propaganda saja. Dan waktu masih tersisa 2 tahun, hingga 2019 sebagai ajang pembuktian kepercayaan rakyat yang sangat besar itu (80%).

Terakhir, jika benar 80% rakyat Indonesia percaya dengan keandalan kinerja pemerintah, maka semestinya Jokowi tidak perlu takut berhadapan dengan calon presiden manapun. Toh dia pasti menang. Tapi jika masih memaksakan skema 20% gabungan suara partai untuk pencalonan presiden, maka hasil survei atau data Gallup itu kita anggap sangat layak diragukan. Betul tidak?
Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment