Komunis - Kapitalis, Rival yang Dipersatukan


Oleh : Amalia Ghassani W 

Persaingan antarnegara pada jaman globalisasi ini mulai terasa. Negara-negara saling memikirkan strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan dan menjadi Negara maju yang dat mempengaruhi dunia. Begitupula usaha yang dilakukan oleh China. Perkembangan ekonomi China kini mengalami peningkatan yang signifikan. China kini menjadi salah satu Negara sentral ekonomi dunia. Namun hal tersebut bukanlah tanpa perjalanan yang panjang bahkan ideologi yang dianutnya dari awal kelahiran kini mulai bergeser. China dikenal sebagai negara penganut ideologi komunis sejak tahun 1949 sampai sekarang. Dari sembilan Negara yang menganut komunis, kini tersisa lima Negara yaitu, China, Kuba, Laos, Vietnam, dan Korea Utara. Tidak mudah untuk bertahan menerapkan ideologi komunis di jaman globalisasi seperti saat ini. Komunis yang diterapkan oleh Negara China pun sudah banyak mengalami perubahan mengikuti dinamisnya kehidupan.

“Sama rasa sama rata” itulah kata-kata yang sering dilontarkan berkaitan dengan komunisme. Komunisme merupakan sebuah sistem politik yg menitikberatkan peran pemerintah yg besar dalam semua sendi di Negara. Alat-alat produksi dikuasai oleh Negara. Pemerintah  Negara penganut komunisme lebih melihat kepada kesamaan pemberian hak. Hak diberikan secara kolektif bukan individu seperti penerapan dari sistem demokrasi. Dalam hal ini tak ada
 pembeda bagi “si miskin” dan “si kaya”, semua diperlakukan sama.

“Fungsi menyejahterakan masyarakat ada di pemerintah dan Negara dengan sistem komunisme memerankannya dengan tegas. Namun rakyat tidak memiliki suara untuk mengkritik
 pemerintah,” tutur Citra Henida, dosen Masyarakat Budaya dan Politik Asia Timur, Hubungan
Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga. Pemerintah  pula yang memahami apa saja yang dibutuhkan rakyatnya dan menyediakannya seperti, kebutuhan pangan, pekerjaan dan jaminan kesehatan.  Negara China tidak serta-merta berdiri dengan paham komunisme. Pada awalnya  pemerintahan China berbentuk kekaisaran dinasti. Dinasti China tidak dapat mempertahankan kekuasaannya ketika partai nasionalisme yang dipimpin oleh Sun Yat Sen berhasil menjatuhkannya. Namun partai nasionalisme saat itu hanya mengganti apa yang terjadi pada
 
masa kaisar China. Hal ini memunculkan gerakan partai komunis baru yang bertujuan menyingkirkan partai nasionalis. Kemudian terjadilah persengketaan dan perang sipil antara  partai nasionalis dengan komunis yang dikenal dengan perang saudara di China. Konflik antar dua partai di China sejak tahun 1927 berakhir secara tidak resmi. Partai komunis China dengan pemimpinnya Mao Zedong berhasil menguasai China daratan di tahun 1949. Meskipun kalah, partai nasionalis beranjak mendirikan Negara baru di China kepulauan (Taiwan). Mendapati kemenangan atas perang saudara, pada tanggal 1 Oktober 1949 Mao Zedong memproklamirkan Republik Rakyat China (RRC) di Tiananmen. Keadaan ini secara otomatis membuat Mao mengambil alih kekuasaan kepemimpinan di China. Kepemilikan privat di China dialihkan menjadi milik Negara. Awal kepemimpinan Mao,  pengalihan kepemilikan dan teror di sekitar warga dan membuat rezim komunisme menebar ketakutan di China.

Sebenarnya Mao memiliki ambisius untuk membangun Negara dan menangani kemiskinan. Dibuatlah kebijakan “Lompatan Jauh Ke depan.” Mao ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ideologi komunisme dapat memecahkan segala  permasalahan. Kebijakan tersebut dilakukan dengan melipatgandakan produksi. Penerapan komunisme di tiap Negara berbeda-beda. Komunis yang dianut di China tidak sama dengan komunis di Rusia. Jika di Rusia basisnya industri dan buruh, di China basis  perjuangan komunisnya ada pada petani. Mao membentuk komune-komune di level masyarakat. Semua profesi yang ada diarahkan untuk pembangunan pedesaan dengan azas pemerataan.

“Ketika kemudian dokter disuruh bertani. Ini kan tidak efisien. Belum tentu dokter punya kemampuan bertani,” jelas Citra Henida. Hal ini kemudian yang menyebabkan kematian besar - besaran. Orang-orang yang tidak biasa bertani, dipaksa bertani dengan disiplin militer.. Mereka hidup bersama di suatu lingkungan rumah yang sama. Lalu timbul beragam penyakit, kelelahan, kelaparan, dan kematian. Selain itu kebijakan yang juga membawa pengaruh besar adalah kebijakan melipatgandakan produksi baja. Hutan dibabat habis demi memenuhi kebutuhan produksi baja. Lahan pertanian mengalami kekeringan karena banyaknya lahan yang ditinggalkan. Pada tahun 1960 bencana kelaparan melanda China. Mao saat itu berkilah bahwa hal ini dikarenakan
 
 pemalsuan jumlah produksi pertanian oleh para petani. Inflasi dan krisis ekonomi juga menerpa China pada saat itu. Kekuasaan selanjutnya setelah Mao Zedong meninggal, digantikan oleh Deng Xiaoping. Deng Xiaoping memahami bahwa China harus melakukan pembangunan terhadap apa yang harus dibangun terlebih dahulu. Ia menggunakan skala prioritas. Pembangunan tersebut tidak secara serentak dimulai di semua wilayah, namun diawali dari wilayah yang menjadi pemicu  pembangunan tersebut. Deng Xiaoping menyadari pertumbuhan yang besar harus dilakukan mulai dari garis pantai selatan. Garis pantai selatan ini berdekatan dengan Hongkong dan Macau. Hongkong dan Macau. Pada saat itu Hongkong masih dikuasai oleh Inggris dan Macau dikuasai  portugis, namun keduanya sudah menjadi pusat industrialisasi. Untuk memulai pembangunan tidak kemudian harus berpegang pada ikatan komunisme. Ikatan komunisme ada pada level  politik dan untuk mengatur masyarakat. Dalam sistem ekonomi, Negara harus lebih pragmatis.

Ada sebuah kutipan terkenal yang diungkapkan oleh Citra Henida, “Tidak peduli kucing berwarna apa tetapi selama bisa menangkap tikus, tidak masalah.” Meski perekonomiannya menggunakan sistem apapun, selama itu bisa menumbuhkan ekonomi, bukan menjadi persoalan. Lalu Deng Xiaoping membuka ekonomi China secara besar-besaran untuk para investor. Dia memanfaatkan Hongkong dan Macau untuk menjadi investor utamanya karena adanya kedekatan etnis dengan China dan faktor lainnya. Lantas dengan mulai dibukanya perekonomian di China, tidak berimbas pada sistem  politiknya. Komunisme masih dipegang teguh dalam sistem politik, institusi yang ada, serta  pengambilan keputusan dalam mengatur masyarakat. Dengan harapan dapat terciptanya keadaan yang kondusif. Itulah mengapa China mulai disebut sebagai Negara yang menganut dua sistem, Komunis dan kapitalis. Komunis pada penerapan politik dan pemerintah, sedangkan kapitalis untuk ekonominya. Komunis tidak lenyap begitu saja, tetapi masih mengambil peran dalam perekonomian di China. Ekonomi China tidak serta-merta dilepas begitu saja. Pemerintah masih turut andil dalam mengontrol dan menyediakan infrastruktur bagi perekonomian China. Namun kemudian 



Share on Google Plus

About INFOdetik

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment